oleh

Upaya Pertamina Wujudkan Kemandirian Energi

-Dumai-94 views

*Potensi Berlimpah, Inovasi tak Kenal Lelah

PT Pertamina (PERSERO) kini tengah mengembangkan bahan bakar dari energi terbarukan. Ramah lingkungan, bahan baku berlimpah dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Energi terbarukan ini sekaligus menjawab tantangan kemandirian energi
PT Pertamina (PERSERO) kini tengah mengembangkan bahan bakar dari energi terbarukan. Ramah lingkungan, bahan baku berlimpah dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Energi terbarukan ini sekaligus menjawab tantangan kemandirian energi

Trajunews.com-Dumai,Empat kilang Pertamina dikembangkan untuk menghasilkan bahan energi hijau atau green energi. Masing-masing kilang Plaju, kilang Cilacap, kilang Balongan, dan kilang Dumai yang diharapkan menghasilkan produk solar ramah lingkungan (green diesel), minyak avtur ramah lingkungan (green avtur), dan bensin ramah lingkungan (green gasoline).

Salah satu sumber energi terbarukan, yang saat ini jumlahnya cukup berlimpah, adalah produk turunan kelapa sawit. Selain sebagai alternatif mengurangi impor minyak mentah, pemanfaatan minyak kelapa sawit sekaligus demi menciptakan nilai tambah bagi kelapa sawit dengan terserapnya produk turunan kelapa sawit di dalam negeri.

Bagaimana tidak, bagi petani kelapa sawit, program ini diharapkan mampu meningkatkan serapan produk CPO sehingga dapat membantu menstabilkan harga TBS (Tandan Buah Segar) di tingkat petani.

Di sisi lain, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 12 tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM No. 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain juga telah menetapkan mandatori Program B20 dimana BBM (jenis Solar) yang dijual harus mengandung setidaknya 20%.

Untuk mencapai itu, Pertamina bersama mitra, terus menerus dan mendalam, melakukan riset mengunakan teknologi tinggi terhadap inovasi pola bahan baku yang bergeser dari sumber daya tak terbarukan menjadi program terencana menjawab tantangan global bisnis perminyakan. Implementasi teknologi baru merupakan bentuk Tangung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)bguna mewujudkan masyarakat berdikari.

Terbukti Pertamina telah berhasil menjalankan inovasi dalam pengembangan BBM nabati jenis gasoil (minyak bensin) melalui sistem co-processing di Kilang Refinery Unit (RU) III Plaju Sumatera Selatan.

Tidak puas terhadap pencapaian tersebut, Pertamina melanjutkan inovasi dalam pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan. Giliran “dapur penjerang minyak” Pertamina RU II Dumai diberi kesempatan Mohamad Nasir sebagai Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk melakukan co-processing guna menciptakan bahan bakar nabati dengan jenis gasoil (minyak solar).

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir didampingi Direktur Perencaan Investasi dan Pemantauan Resiko (PIMR) Heru Setiawan, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Kadarsyah Suryadi dan Nandang Kurnaedi GM Pertamina RU II Dumai secara lansung meninjauan lokasi dan perkembangan program ini pada 16 Mei 2019 lalu, di kawasan kilang Pertamina RU II Dumai.

Diberi kepercayaan sebagai tuan rumah pelaksanaan program inovasi yang luar bisa terhadap penemuan teknologi pembaharuan di bidang perminyakan. Pertamina RU II Dumai optimis implementasi proses pengolahan BBM nabati di Kilang RU II Dumai merupakan batu loncatan besar dalam hal perkembangan teknologi di Indonesia sekaligus mendorong pengurangan impor minyak mentah.

Inovasi Co-processing atau pengolahan bahan bakar dengan penggabungan bahan baku minyak fosil dan bahan baku minyak nabati ini juga merupakan sebuah temuan teknologi yang membanggakan untuk Indonesia.

Sebab, program Co-processing dilaksanakan menggunakan katalis berteknologi tinggi pertama kali di temukan di Research and Technology Center Pertamina bersama Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Kita dan bangsa Indonesia perlu berbangga hati, generasi terbaik bangsa ini telah dapat menciptakan katalis yang selama ini didapatkan dari luar negeri. Setelah melalui beberapa tahun penelitian yang luar biasa, penemuan katalis yang diberi nama Katalis Merah Putih ini telah siap digunakan”, ungkap Nandang Kurneadi GM Pertamina RU II Dumai.

Riset pengembangan katalis ini telah dilakukan sejak 2008 hingga terciptanya katalis generasi kedua. Akhirnya kini telah secara optimal menjadi elemen pendukung co-processing di Kilang RU II Dumai. Pencapaian ini harus mendapatkan apresiasi luar biasa tentunya oleh seluruh masyarakat Indoensia. Proses pengembangan katalis dilaksanakan oleh putera puteri terbaik bangsa dan diujicobakan di Kilang Pertamina RU II Dumai, yang juga menjadi Icon negeri penjerang minyak bagi kota Dumai.

Dampak nyata lanjutan setelah berhasil menciptakan katalis genaris kedua, pengolahan CPO dilakukan di fasilitas Distillate Hydrotreating Unit (DHDT) yang berada di kilang Pertamina RU II Dumai, kini berkapasitas 12.6 MBSD (Million Barel Per Stream Day).

Penggantian katalis lama dengan versi baru ciptaan dalam negeri ini mulai dijalankan pada Februari 2019. Injeksi bahan baku minyak nabati pun mulai dilaksanakan pada Maret 2019.

“Dari hasil uji coba, pengolahan dengan sistem co-processing di unit DHDT ini dapat menyerap feed RBDPO hingga 12 %. Pencampuran langsung RBDPO dengan bahan bakar fosil di kilang ini secara teknis lebih sempurna dengan proses kimia, sehingga menghasilkan komponen gasoil dengan kualitas lebih tinggi karena angka cetane mengalami peningkatan hingga 58% dengan kandungan sulphur lebih rendah”, imbuh Nandang.

Untuk hasil sempurna, saat ini CPO yang digunakan adalah jenis crude palm oil yang telah diolah dan dibersihkan getah serta baunya atau dikenal dengan nama RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil). kemudian dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang kemudian diolah dengan proses kimia, menghasilkan bahan bakar solar ramah lingkungan.

Program ini memberikan dampak positif besar tentunya bagi negara. Dengan penggunaan 10 hingga 12 % feed dari minyak nabati, negara dapat menghemat biaya yang dikeluarkan untuk mengimpor minyak mentah hingga 1.6 Juta USD per tahunnya,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir saat melakukan peninjauan lansung pada 16 Mei 2019 lalu.

Dengan capaian ini, tentu saja negara ini memiliki harapan besar pada program yang dapat terus dikembangkan sehingga serapan minyak nabati di kilang Pertamina dapat semakin meningkat. (*)

Penulis : RAHMAD

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed